Sabtu, 11 Juni 2011

SUATU TELAAH PENDEKATAN TEORI REALISME

“ PERANG SAUDARA PECAH DI LIBYA”

Gejolak kekuatan rakyat terus berlanjut di dunia Arab setelah tumbangnya kekuasaan otoritarianisme Presiden Ben Ali di Tunisia dan Presiden Mubarak di Mesir. Jelas terilhami keberhasilan revolusi rakyat di kedua negara ini, kini eskalasi kekuatan massa kian meningkat di sejumlah negara Arab, khususnya di Libya. Demonstrasi antipemerintah untuk mendesak Khadafi turun dari kursi kekuasaan yang telah ia kendalikan selama 41 tahun 5 bulan dan lebih tepatnya sejak 1 September 1969, setelah mengkudeta Raja Idris, masih terjadi di berbagai kota.
Dari peristiwa di atas, kita dapat menganalisa krisis yang terjadi di Libya ini dengan menggunakan pendekatan teori realis. Dalam pemikiran kaum realis, manusia dicirikan sebagai makhluk yang selalu cemas akan keselamatan dirinya dalam hubungan persaingan dengan yang lain. Mereka ingin berada dalam kursi kendali. Pandangan dari kaum realis di atas telah dicerminkan akan tindakan yang dilakukan oleh Moammar Khadafi dengan keteguhannya untuk memertahankan kursi kekuasaan yang sejak 1 September 1969 ia kuasai. Dalam kasus ini memang belum di temukan lawan dari Khadafy sendiri yang berusaha merebut kekuasaaanya, namun kekacauan yang terjadi di Libya saat ini adalah untuk menggulingkan kekuasaan otoriter Khadafy dan adanya revolusi dari rakyat hingga memunculkan pihak pro dan kontra terhadap Khadafy. Sesuai dengan yang dikemukakan oleh Morgenthau bahwa politik adalah perjuangan memperoleh kekuasaan atas manusia, dan apapun tujuannya, tujuan akhir terpenting adalah kekuasaan dan cara-cara memperolehnya.
Peristiwa tersebut menjelaskan bahwasanya pemerintah menggunakan cara kekerasan berupa penggunaaan pasukan militer untuk meredakan krisis yang terjadi di Libya. Pertempuran antara pasukan pro dan antirezim Moammar Khadafy masih berkobar di beberapa kota di Libya. AS mengerahkan sejumlah kapal perang dan pesawat tempur ke Libya terkait dengan ketegangan antara kubu oposisi dan pro-Khadafy. Ini dilihat sebagai unjuk kekuatan simbolis oleh AS dan sekutunya, NATO. NATO siap melakukan intervensi militer di negeri kaya minyak itu. Secara teoritis mendukung teori realisme, dimana salah satu ide dan asumsi dasar kaum realis adalah keyakinan bahwa konflik Internasional pada akhirnya akan diselelsaikan melalui perang. Seperti yang telah dikemukakan oleh kaum realis bahwa suatu arena persaingan, konflik, dan perang antara negara-negara di mana masalah dasar yang sama dalam mempertahankan nasional dan kelangsungan hidup negaranya.
Aplikasi teori realisme lain adalah berkaitan bagaimana realis memandang sistem internasional sebagai suatu sistem yang anarkis, dimana negara adalah aktor utama, dan negara harus berjuang sedemikian rupa untuk membangun state power demi terciptanya balance of power sebagai pencegah konflik dan tidak memunculkan dilema keamanan. Konsep ini secara langsung terimplementasikan melalui tindakan pemerintah Libya sebagai negara yang bertindak dengan menggunakan kapabilitas militer sebagai salah satu cara untuk menghentikan konfilk dalam kaitanya dengan penciptaan Balance of Power sebagai tata perdamaian negara. Tidak menutup kemungkinan untuk Khadafy menerima proposal yang ditawarkan oleh Presiden Venezuela Hugo Chaves untuk meredakan konflik perang saudara di Libya ini.

oleh : Rany A Wardani (HI-UB)

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates