Sabtu, 11 Juni 2011

LEVEL OF ANALISIS “STATE”

EKSPOR JEPANG AKAN TERGANGGU

Analisa Kasus
Gempa bumi berkekuatan 8,9 skala Richter pada kedalaman 24,4 km di sebelah pantai timur Honshu, Jepang, pada 11 Maret 2011 pukul 12.46 WIB atau 14,46 waktu setempat, tercatat sebagai gempa bumi terbesar ketujuh di dunia. Bagi Jepang, gempa bumi kemarin adalah terbesar sepanjang sejarah. Tercatat gempa di Jepang adalah di Sanriku 8,5 SR (1896) dan 8,4 SR (1933), serta Hokaido 8,3 SR (2003). Dampak yang ditimbulkan sangat dahsyat. Ribuan orang diperkirakan meninggal dunia dan hilang. Tidak hanya memakan korban jiwa, dampak utama yang akan dirasakan oleh Pemerintahan Jepang adalah di sektor perekonomian. Tidak sedikit perusahaan besar yang menghentikan proses produksi dan lumpuhnya sumber daya listrik dimana akan mengganggu stabilitas proses produksi Jepang yang mayoritas menggunakan tenaga tersebut. Bencana yang dialami Jepang kini telah merusak sektor lini perekonomian Jepang dan banyak perusahaa-perusaan yang mengalami kerugian. Selain negara sakura itu sendiri yang merasakan dampak dari bencana gempa bumi, tsunami, dan bocornya reaktor nuklir, bencana besar itu juga membawa dampak yang buruk bagi negara-negara lain, dan salah satunya adalah Indonesia. Salah satu dampak yang dirakasakan oleh Indonesia adalah sektor ekspor-impor. Ekspor Indonesia ke Jepang mengalami penurunan yang signifikan karena berkurangnya permintaan dari pemerintahan Jepang itu sendiri. Sebelumnya volume ekspor ke Jepang menempati posisi teratas sepanjang tahun 2010. Bencana alam tersebut akan berdampak buruk bagi sektor perdagangan lokal yang bergantung pada barang-barang impor dari Jepang.
Kerugian yang dialami Indonesia terkait bencana di Jepang belum dapat dipastikan dan mebutuhkan waktu untuk menghitungnya dari berbagai sektor lini perekonomian dan memastikan seberapa parah kerusakan yang dialami oleh Jepang dimana terdapat keterkaitannya dengan kerjasama Indonesia. Tsunami yang terjadi di Jepang akan melumpuhkan transportasi dan menghambat proses pengiriman barang. Jepang sebagai mitra dagang Indonesia yang diandalkan dan tempat tujuan ekspor, salah satunya akan berdampak pula pada ekspor ikan pasti akan terkena dampak gempa di Jepang karena negeri ini merupakan pasar bagi tuna dan udang asal Indonesia. Selama ini Jepang menjadi tujuan favorit ekspor karena harga beli ikan lebih tinggi dibandingkan dengan negara tujuan ekspor lain. Di Jepang, harga ikan cakalang per ton 1.500 dollar AS, sedangkan di negara tujuan ekspor lain, seperti Thailand, harganya 1.200 dollar AS.
Jadi dari rincian penjelasan diatas, dapat ditarik analisa kasus bahwasanya gempa dan tsunami di jepang telah mengakibatkan berkurangnya aktivitas ekspor-impor antara Jepang dan Indonesia. Pengurangan permintaan barang-barang dari pemerintahan Jepang dan terhambatnya proses pengirirman barang karena tsunami yang mengganggu transportasi di Jepang.
Aplikasi Level Of Analisis
Pengaplikasian level of analisis yang digunakan dalam kasus dampak bencana di Jepang terhadap perekonomian Indonesia adalah level of analisis negara. Pemilihan katagori LOA tersebut didadasarkan pada peran aktif negara Indonesia dalam menaggulangi kerugian yang dialami oleh Indonesia sebagai aktor utama di dalamnya. Asumsi dasar dari tingkat analisa ini bahwa semua pembuat keputusan akan berperilaku sama jika menghadapi situasi yang sama. Sehingga kenyataan yang ada dalam hubungan internasional lebih dicerminkan oleh perilaku negara yang selam ini dianggap sebagai aktor dominan dalam HI.
Mengahadapi kondisi yang katatropis seperti ini, Indonesia harus mempersiapakan diri untuk mengurangi kerugian dari kerjasama dengan Jepang. Sejumlah perusahaan besar di Jepang juga menyatakan memberhentikan sementara waktu kegiatan produksi mereka. Perusahaan itu antara lain produsen otomotif Toyota, Nissan, dan Honda, yang menunda total aktivitas mereka setidaknya sampai hari Senin ini. Kebijakan menghentikan operasi semua pabriknya juga dilakukan perusahaan lain, seperti industri elektronik besar Jepang, Sony. Enam fasilitas pabrik mereka di kawasan terkena dampak langsung terpaksa tidak berproduksi, salah satunya karena terendam banjir. Selain itu, mereka juga menghentikan operasi produksi pesawat terbang dan pabrik peralatan sumber daya di Tochigi. Selain industri manufaktur dan sumber daya listrik, bencana alam juga melumpuhkan industri minyak Jepang menyusul kerusakan dan kebakaran parah yang terjadi pada sejumlah kilang minyak di sana.
Jepang juga mengkhawatirkan terjadinya krisis listrik menyusul kerusakan pada reaktor pembangkit listrik. Kerusakan terjadi di reaktor pembangkit di Fukushima Nomor 1, 250 kilometer timur laut Tokyo, yang bocor dan meledak Sabtu kemarin. Padahal, PLTN di Negeri Sakura itu sangat diandalkan, mengingat sekitar sepertiga industri di Jepang sangat mengandalkan listrik yang bersumber dari PLTN. Bencana alam memaksa sejumlah reaktor nuklir ditutup, yang oleh Pemerintah Jepang disebut memicu kelangkaan pasokan listrik.
Melihat kondisi Jepang yang seperti itu perekonomian Indonesia bakal terganggu akibat gempa bumi dan tsunami di Jepang pada 11 Maret 2011. Berbagai kalangan pengusaha Indonesia khawatir sekaligus bersiap-siap menghadapi pasar ekspor Jepang yang bakal merosot pascagempa dan tsunami di Jepang. Produk seperti ikan tuna, udang, biji kakao, tetes tebu, marmer, hasil alam, kopi, berbagai kerajinan, dan aromaterapi dikhawatirkan akan menyusut atau mengalami penundaan. Untuk itu harus ada suatu antisipasi dengan memprediksi akan adanya pengurangan demand atau permintaan dari Jepang dan untuk itu hal ini harus segera diantisipasi. Dan pemerintah juga harus mengambil langkah bijak untuk menetukan batas yang harus disediakan dan diterima dari kegiatan ekspor-impor tersebut agar tidak terjadi penumpukan barang-barang yang menimbulkan kerugian, misalnya bagi usaha kevil menengah (UKM).
Kelanjutan investasi perusahaan Jepang dan komitmen utang Pemerintah Jepang bagi Indonesia menjadi tanda tanya. Hal itu dipicu oleh Jepang perlu berkonsentrasi membenahi negaranya. Pencairan utang dan hibah bagi Indonesia bisa tertunda. Sebab, Jepang perlu menata utang piutang luar negerinya. Meskipun demikian, Indonesia tidak perlu memutustuskan suatu kerjasama dengan Jepang karena Jepang merupakan negara yang mampu bertahan dengan cukup baik ditengah bencana yang datang bertubi-tubi. Misalnya proyek Metropolitan Priority Area (MPA), pertemuan untuk membahas MPA akan tetap berlangsung 17 Maret 2011. Menurut rencana awal, proyek-proyek infrastruktur dalam MPA akan mulai digarap tahun 2013.

Oleh : Rany A Wardani (HI-UB)

0 komentar:

Poskan Komentar

Template by:

Free Blog Templates